Minggu, 26 April 2015
Himpunan Mahasiswa Mesin STT wastukancana purwakarta
0 komentar Diposting oleh PUTRA BUNGURSARI di 4/26/2015 05:21:00 AMRabu, 23 Juli 2014
Yang butuh Kerja Sampingan dari internet?
Keuntungan pasti dibayar nih bagi yang hobi online, bisa buat income hingga Rp 3,000,000 atau lebih dalam sehari tanpa modal. Cuma waktu 3 menit aja setelah baca ini.
Saya mau berbagi program dari US yang bisa buat duit sampingan.Free register tanpa dikenakan biaya. Tiada modus penipuan (kalau anda rasa program ini bohong anda ga rugi biaya, hanya rugi waktu sebentar saja).
Syarat: anda punya bbm, FB or Wechat, Whatsapp, blog atau apapun juga dan suka online. Anda hanya perlu open Link dibawah dan register sebagai member.
Sesudah register anda langsung dapat US $ 25 X 10,000 = Rp 250.000. Kemudian anda dpt Link anda sendiri. Seperti saya di bawah, Anda copy Link anda sendiri dan paste di FB, twitter, chat dan sebagainya.
Setiap orang yang buka Link anda dan register anda akan menerima upah sebanyak $ 10 X 10,000 = Rp 100,000. Mudah bukan?? Perusahaan ini membayar kita sebagai pengiklan Utk meningkatkan traffic situs WEB nya setiapa hari. Jadi kerja ringan kita untuk share WEB mereka bayar dengan nominal yang lumayan besar. Pencairanm duit anda bs pilih duitnya mau di transfer ke rek bank atau cek akan di pos langsung ke alamat rumah anda.
Tunggu apalagi register sekarang juga klik Link http://WeeklyYouthPay.com/?ref=63869
5 monggo di coba sekarang juga
Keuntungan pasti dibayar nih bagi yang hobi online, bisa buat income hingga Rp 3,000,000 atau lebih dalam sehari tanpa modal. Cuma waktu 3 menit aja setelah baca ini.
Saya mau berbagi program dari US yang bisa buat duit sampingan.Free register tanpa dikenakan biaya. Tiada modus penipuan (kalau anda rasa program ini bohong anda ga rugi biaya, hanya rugi waktu sebentar saja).
Syarat: anda punya bbm, FB or Wechat, Whatsapp, blog atau apapun juga dan suka online. Anda hanya perlu open Link dibawah dan register sebagai member.
Sesudah register anda langsung dapat US $ 25 X 10,000 = Rp 250.000. Kemudian anda dpt Link anda sendiri. Seperti saya di bawah, Anda copy Link anda sendiri dan paste di FB, twitter, chat dan sebagainya.
Setiap orang yang buka Link anda dan register anda akan menerima upah sebanyak $ 10 X 10,000 = Rp 100,000. Mudah bukan?? Perusahaan ini membayar kita sebagai pengiklan Utk meningkatkan traffic situs WEB nya setiapa hari. Jadi kerja ringan kita untuk share WEB mereka bayar dengan nominal yang lumayan besar. Pencairanm duit anda bs pilih duitnya mau di transfer ke rek bank atau cek akan di pos langsung ke alamat rumah anda.
Tunggu apalagi register sekarang juga klik Link http://WeeklyYouthPay.com/?ref=63869
5 monggo di coba sekarang juga
weeklyyouthpay.com
Rabu, 07 November 2012
1.
Aqidah / Akidah
Aqidah adalah ilmu yang mengajarkan manusia mengenai kepercayaan yang pasti wajib dimiliki oleh setiap orang di dunia. Alquran mengajarkan akidah tauhid kepada kita yaitu menanamkan keyakinan terhadap Allah SWT yang satu yang tidak pernah tidur dan tidak beranak-pinak. Percaya kepada Allah SWT adalah salah satu butir rukun iman yang pertama. Orang yang tidak percaya terhadap rukun iman disebut sebagai orang-orang kafir.
Aqidah adalah ilmu yang mengajarkan manusia mengenai kepercayaan yang pasti wajib dimiliki oleh setiap orang di dunia. Alquran mengajarkan akidah tauhid kepada kita yaitu menanamkan keyakinan terhadap Allah SWT yang satu yang tidak pernah tidur dan tidak beranak-pinak. Percaya kepada Allah SWT adalah salah satu butir rukun iman yang pertama. Orang yang tidak percaya terhadap rukun iman disebut sebagai orang-orang kafir.
لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِىَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ
“Senantiasa ada segolongan dari
umatku tampil menegakkan kebenaran, tidak merasa rugi dengan orang yang
menghina mereka sampai datang hari kiamat, dan mereka tetap teguh dalam keadaan
demikian.” ( HR
Muslim)
Maka seorang mukmin harus
bercermin dalam kehidupan dunia ini, kepada siapa yang menjadi contoh dan
teladannya? Banyak contoh di dunia ini dengan aneka ragam dan coraknya. Banyak
insan manusia yang mengikuti semua itu. Baik dari mulai berpakaian, bergaya,
berias, hingga hal-hal yang mendetail, seperti kata-kata juga dalam membangun
keluarga. Tentu sebaga orang Islam, kita tidak akan pernah mencontoh apapun dan
siapapun, kecuali generasi terbaik seperti yang pernah disabdakan oleh Nabi r :
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ
الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik baik manusia adalah
(orang yang hidup) pada masaku ini (yaitu generasi para sahabat), kemudian
sesudahnya (generasi Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (generasi Tabi’iut
Tabi’in).” (HR
Bukhori).
2.
Ibadah
Ibadah adalah taat, tunduk, ikut atau nurut dari segi bahasa. Dari pengertian "fuqaha" ibadah adalah segala bentuk ketaatan yang dijalankan atau dkerjakan untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT. Bentuk ibadah dasar dalam ajaran agama islam yakni seperti yang tercantum dalam lima butir rukum islam. Mengucapkan dua kalimah syahadat, sholat lima waktu, membayar zakat, puasa di bulan suci ramadhan dan beribadah pergi haji bagi yang telah mampu menjalankannya.
Ibadah adalah taat, tunduk, ikut atau nurut dari segi bahasa. Dari pengertian "fuqaha" ibadah adalah segala bentuk ketaatan yang dijalankan atau dkerjakan untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT. Bentuk ibadah dasar dalam ajaran agama islam yakni seperti yang tercantum dalam lima butir rukum islam. Mengucapkan dua kalimah syahadat, sholat lima waktu, membayar zakat, puasa di bulan suci ramadhan dan beribadah pergi haji bagi yang telah mampu menjalankannya.
·
Ayat-ayat al-Qur’an tentang
Keikhlasan dalam Beribadah

A. QS Al An’am [6]: 162-163 tentang Salat, Ibadah, Hidup, dan Mati Hanya untuk Allah
Artinya: “162. Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. 163. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS Al-An’am : 162-163)
Kandungan
Surat Al-An’am ayat 162-163 sering dibaca pada bacaan iftitah shalat karena ayat ini bermakna sebuah pengakuan terhadap kekuasaan Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Kita mengakui bahwa Allah SWT adalah satu-satunya zat yang patut dan wajib disembah, karena yang lain tidak ada yang bisa menandingi kekuasaan Allah SWT.
Kandungan Surat Al An’am ayat 162 – 163, antara lain:
1. Semua aktivitas kehidupan, baik berupa ibadah khusus seperti shalat, zakat, puasa dan ibadah umum seperti muamalah, bahkan kehidupan dan kematian hendaknya kita serahkan kepada Allah semata
2. Tidak ada yang dapat menyamai Allah
3. Hendaknya kita hanya berserah diri kepada Allah
QS Al Bayyinah [98]: 5 tentang Perintah Menyembah Allah dengan Ikhlas
Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS Al Bayyinah : 5)
Kandungan
Surat Al Bayyinah ayat 5 memiliki beberapa kandungan, antara lain:
1. Manusia diperintahkan untuk menyembah hanya kepada Allah SWT
2. Memurnikan agama Allah dari ajaran-ajaran kemusyrikan
3. Manusia diperintahkan mendirikan shalat dan zakat
4. Menyembah kepada Allah dan menjauhi kemusyrikan adalah agama yang benar dan lurus
Menjalankan ibadah yang telah ditetapkan oleh Allah dengan penuh keikhlasan, seperti dalam menjalankan perintah shalat yang tepat pada waktunya dengan khusyuk serta lengkap dengan rukun dan syaratnya.
Kata ikhlas secara harfiah berarti murni, suci, atau bersih. Menurut istilah, ikhlas adalah melakukan ibadah dengan tulus hati dan semata-mata mengharap rida Allah swt.

A. QS Al An’am [6]: 162-163 tentang Salat, Ibadah, Hidup, dan Mati Hanya untuk Allah
Artinya: “162. Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. 163. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS Al-An’am : 162-163)
Kandungan
Surat Al-An’am ayat 162-163 sering dibaca pada bacaan iftitah shalat karena ayat ini bermakna sebuah pengakuan terhadap kekuasaan Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Kita mengakui bahwa Allah SWT adalah satu-satunya zat yang patut dan wajib disembah, karena yang lain tidak ada yang bisa menandingi kekuasaan Allah SWT.
Kandungan Surat Al An’am ayat 162 – 163, antara lain:
1. Semua aktivitas kehidupan, baik berupa ibadah khusus seperti shalat, zakat, puasa dan ibadah umum seperti muamalah, bahkan kehidupan dan kematian hendaknya kita serahkan kepada Allah semata
2. Tidak ada yang dapat menyamai Allah
![]() |
3. Hendaknya kita hanya berserah diri kepada Allah
QS Al Bayyinah [98]: 5 tentang Perintah Menyembah Allah dengan Ikhlas
Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS Al Bayyinah : 5)
Kandungan
Surat Al Bayyinah ayat 5 memiliki beberapa kandungan, antara lain:
1. Manusia diperintahkan untuk menyembah hanya kepada Allah SWT
2. Memurnikan agama Allah dari ajaran-ajaran kemusyrikan
3. Manusia diperintahkan mendirikan shalat dan zakat
4. Menyembah kepada Allah dan menjauhi kemusyrikan adalah agama yang benar dan lurus
Menjalankan ibadah yang telah ditetapkan oleh Allah dengan penuh keikhlasan, seperti dalam menjalankan perintah shalat yang tepat pada waktunya dengan khusyuk serta lengkap dengan rukun dan syaratnya.
Kata ikhlas secara harfiah berarti murni, suci, atau bersih. Menurut istilah, ikhlas adalah melakukan ibadah dengan tulus hati dan semata-mata mengharap rida Allah swt.
3.
Akhlaq / Akhlak
Akhlak adalah perilaku yang dimiliki oleh manusia, baik akhlak yang terpuji atau akhlakul karimah maupun yang tercela atau akhlakul madzmumah. Allah SWT mengutus Nabi Muhammd SAW tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memperbaiki akhlaq. Setiap manusia harus mengikuti apa yang diperintahkanNya dan menjauhi laranganNya.
Akhlak adalah perilaku yang dimiliki oleh manusia, baik akhlak yang terpuji atau akhlakul karimah maupun yang tercela atau akhlakul madzmumah. Allah SWT mengutus Nabi Muhammd SAW tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memperbaiki akhlaq. Setiap manusia harus mengikuti apa yang diperintahkanNya dan menjauhi laranganNya.
Akhlak Kepada Kedua Orang Tua
- Al Israa’ : 23-24
- وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23)
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Artinya: “Dan Tuhanmu menetapkan bahwa janganlah kamu menyembah melainkan kepadaNya, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak. Jika sampai salah seorang mereka itu atau keduanya telah tua dalam pemeliharaanmu (berusia lanjut), maka janganlah engkau katakan kepada keduanya “ah”, dan janganlah engkau bentak keduanya, dan berkatalah kepada keduanya perkataan yang mulia.” (23) “Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah, “Hai Tuhanku, kasihanilah keduanya, sebagaimana mereka telah memeliharaku waktu kecil”. (24)
Uraian: Sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah, kita diharuskan untuk menyembah hanya kepadaNya. Kita dilarang berbuat yang tidak baik kepada orang tua, bahkan untuk berkata “ah” saja kita dilarang. Saat orang tua kita sudah berusia lanjut, mereka membutuhkan kita (sebagai anak) untuk merawat mereka dengan penuh kasih sayang seperti mereka saat merawat kita dari kecil hingga sekarang. Diwajibkan bagi kita untuk berdoa kepada Allah SWT dan meminta kepadaNya untuk kebahagian mereka di dunia maupun di akhirat.
- Al Ahqaaf : 15
- وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Artinya: “Dan Kami telah perintahkan manusia untuk berbuat baik kepada ibu-bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dengan kepayahan dan melahirkannya dengan kepayahan (pula). Dia mengandungnya sampai masa menyapihnya tiga puluh bulan, sehingga apabila anak itu mencapai dewasa dan mencapai usia empat puluh tahun, dia berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk supaya aku mensyukuri nikmatMu yang Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat mengerjakan amal saleh yang Engkau meridhainya, dan berilah kebaikan kepadaku (juga) pada keturunanku. Sesungguhnya aku taubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim)”.
Uraian: Ayat ini menyuruh kita untuk berbuat baik kepada orang tua, karena suatu hari nanti kita pun akan menjadi orang tua yang mana akan memiliki keturunan, maka hendaknya kita bertaubat dan mensyukuri atas apa yang dianugerahkan Allah SWT pada kita dan selalu mengerjakan amal sholeh seperti yang telah di perintahkan Allah SWT. Serta tak lupa juga kita berdoa kepada-Nya, agar kita dan keturunan-keturunan kita selalu diberi kebaikan oleh Allah.
- Al Israa’ : 23-24
- وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23)
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Artinya: “Dan Tuhanmu menetapkan bahwa janganlah kamu menyembah melainkan kepadaNya, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak. Jika sampai salah seorang mereka itu atau keduanya telah tua dalam pemeliharaanmu (berusia lanjut), maka janganlah engkau katakan kepada keduanya “ah”, dan janganlah engkau bentak keduanya, dan berkatalah kepada keduanya perkataan yang mulia.” (23) “Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah, “Hai Tuhanku, kasihanilah keduanya, sebagaimana mereka telah memeliharaku waktu kecil”. (24)
Uraian: Sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah, kita diharuskan untuk menyembah hanya kepadaNya. Kita dilarang berbuat yang tidak baik kepada orang tua, bahkan untuk berkata “ah” saja kita dilarang. Saat orang tua kita sudah berusia lanjut, mereka membutuhkan kita (sebagai anak) untuk merawat mereka dengan penuh kasih sayang seperti mereka saat merawat kita dari kecil hingga sekarang. Diwajibkan bagi kita untuk berdoa kepada Allah SWT dan meminta kepadaNya untuk kebahagian mereka di dunia maupun di akhirat.
- Al Ahqaaf : 15
- وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Artinya: “Dan Kami telah perintahkan manusia untuk berbuat baik kepada ibu-bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dengan kepayahan dan melahirkannya dengan kepayahan (pula). Dia mengandungnya sampai masa menyapihnya tiga puluh bulan, sehingga apabila anak itu mencapai dewasa dan mencapai usia empat puluh tahun, dia berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk supaya aku mensyukuri nikmatMu yang Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat mengerjakan amal saleh yang Engkau meridhainya, dan berilah kebaikan kepadaku (juga) pada keturunanku. Sesungguhnya aku taubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim)”.
Uraian: Ayat ini menyuruh kita untuk berbuat baik kepada orang tua, karena suatu hari nanti kita pun akan menjadi orang tua yang mana akan memiliki keturunan, maka hendaknya kita bertaubat dan mensyukuri atas apa yang dianugerahkan Allah SWT pada kita dan selalu mengerjakan amal sholeh seperti yang telah di perintahkan Allah SWT. Serta tak lupa juga kita berdoa kepada-Nya, agar kita dan keturunan-keturunan kita selalu diberi kebaikan oleh Allah.
4.
Hukum-Hukum
Hukum yang ada di Al-quran adalah memberi suruhan atau perintah kepada orang yang beriman untuk mengadili dan memberikan penjatuhan hukuman hukum pada sesama manusia yang terbukti bersalah. Hukum dalam islam berdasarkan Alqur'an ada beberapa jenis atau macam seperti jinayat, mu'amalat, munakahat, faraidh dan jihad.
Hukum yang ada di Al-quran adalah memberi suruhan atau perintah kepada orang yang beriman untuk mengadili dan memberikan penjatuhan hukuman hukum pada sesama manusia yang terbukti bersalah. Hukum dalam islam berdasarkan Alqur'an ada beberapa jenis atau macam seperti jinayat, mu'amalat, munakahat, faraidh dan jihad.
Mengapa
ummat Islam selalu saja mempermasalahkan hukum apa yang diberlakukan di tengah
masyarakat? Mengapa ummat Islam tidak bisa menerima saja hukum apapun yang
diberlakukan tanpa peduli apakah itu hukum Allah ataukah hukum buatan manusia?
Bukankah yang penting adalah law and order aliaspenegakkan hukum? Apalah artinya jika dalam suatu
masyarakat Islam diberlakukan secara formal hukum Allah sebagai hukum negara
namun ternyata secara aplikasi tidak terjadi penegakkan hukumnya? Bukankah
keadilan bisa dirasakan masyarakat luas bila penegakkan hukum berlaku secara
murni dan konsekuen, meskipun hukumnya bukan hukum Allah alias hukum buatan
manusia?
Saudaraku,
disinilah letaknya komitmen seorang mukmin. Seorang mukmin harus menjawab
dengan jujur dan penuh kesadaran. Masyarakat seperti apakah yang ia inginkan? Masyarakat
kumpulan hamba-hamba Allah yang beriman dan patuh berserah-diri kepada Allah?
Ataukah ia puas dengan berdirinya suatu masyarakat yang terdiri atas kumpulan
manusia yang tidak peduli taat atau tidaknya mereka kepada Allah asalkan yang
penting masyarakat itu berjalan dengan harmoni tidak saling mengganggu dan
menzalimi sehingga semua merasa happy hidup
bersama berdampingan dengan damai di dunia?
Saudaraku, seorang mukmin tidak
pernah berpendapat sebelum ia bertanya kepada Allah dan RasulNya. Terutama bila
pertanyaannya menyangkut urusan yang fundamental dalam kehidupannya. Oleh
karenanya marilah kita melihat bagaimana Allah menyuruh kita bersikap bilamana
menyangkut urusan hukum. Di dalam Kitabullah Al-Qur’an Al-Karim terdapat banyak
ayat yang memberikan panduan bagaimana seorang mukmin mesti bersikap dalam
urusan hukum. Di antaranya sebagai berikut:
وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ
اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ
يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ
مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di
antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti
hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka
tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah
kepadamu…”(QS Al Maidah ayat 49)
Dalam
buku ”Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir” Muhammad Nasib Ar-Rifa’i mengomentari
potongan ayat yang berbunyi “Dan hendaklah kamu memutuskan
perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah…” dengan catatan sebagai berikut: ”Hai Muhammad, putuskanlah
perkara di antara seluruh manusia dengan apa yang diturunkan Allah kepadamu
dalam kitab yang agung ini (yaitu Al-Qur’an)…”
Sedangkan
firman Allah:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ
أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
”Apakah
hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik
daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al Maidah ayat 50)
Mengomentari
ayat di atas, maka dalam buku ”Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir” penulis mencatat: ”Allah mengingkari orang yang
berhukum kepada selain hukum Allah, karena hukum Allah itu mencakup segala
kebaikan dan melarang segala keburukan. Berhukum kepada selain hukum Allah
berarti beralih kepada hukum selain-Nya, seperti kepada pendapat, hawa nafsu
dan konsep-konsep yang disusun oleh para tokoh tanpa bersandar kepada syariat
Allah, sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat jahiliyah yang berhukum
kepada kesesatan dan kebodohan yang disusun berdasarkan penalaran dan seleranya
sendiri.
5.
HUKUM
Pemerintahan sebagai sekumpulan orang-orang
yang mengelola kewenangan-kewenangan, melaksanakan kepemimpinan dan koordinasi
pemerintahan serta pembangunan masyarakat dari lembaga-lembaga dimana mereka
ditempatkan.
Pemerintahan merupakan organisasi atau wadah orang yang mempunyai kekuasaaan dan lembaga yang mengurus masalah kenegaraan dan kesejahteraan rakyat dan negara.
Pemerintahan merupakan organisasi atau wadah orang yang mempunyai kekuasaaan dan lembaga yang mengurus masalah kenegaraan dan kesejahteraan rakyat dan negara.
PRINSIP-PRINSIP KEKUASAAN
POLITIK
Seperti
terlihat di atas, kekuasaan politik dianugerahkan oleh
Allah Swt.
kepada manusia. Penganugerahan ini
dilakukan
melalui satu ikatan
perjanjian. Ikatan ini
terjalin antara
sang penguasa
dengan Allah Swt.
di satu pihak dan dengan
masyarakatnya di pihak lain.
Perjanjian dengan Allah dinamai
oleh-Nya dalam Al-Quran dengan
'ahd.
Dalam surat
Al-Baqarah (2): 124
Nabi Ibrahim a.s.
yang
diangkat Tuhan menjadi imam
bermohon kepada-Nya agar
imamah
(kepemimpinan) itu diperoleh pula oleh anak cucunya.
Kemudian
Allah menjawab:
Perjanjianku tidak akan diperoleh oleh
orang-orang
zalim.
Adapun perjanjian dengan anggota
masyarakat, maka ia dinamai
bai'at. Hal
ini telah penulis isyaratkan
sebelum ini ketika
menjelaskan sebab penggunaan
kata Kami dalam pengangkatan Nabi
Daud a.s.
sebagai khalifah, dan
diisyaratkan juga oleh
Al-Quran terhadap Nabi Muhammad
Saw. yang kepada beliau datang
wanita-wanita untuk berbaiat.
Hai Nabi, apabila datang kepadamu
perempuan-perempuan
beriman untuk mengadakan bai'at (janji
setia) bahwa
mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu
pun dengan
Allah, tidak akan mencuri, tidak akan
berzina, tidak
akan membunuh anak-anaknya, tidak akan
berbuat dusta
yang mereka ada-adakan antara tangan dan
kaki mereka
(mengadakan pengakuan palsu tentang
hubungan seksual
dan akibat-akibatnya), dan tidak akan
mendurhakaimu
dalam urusan ma'ruf, maka terimalah bai'at
mereka dan
mohonkanlah ampun kepada Allah untuk
mereka.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang
(QS Al-Mumtahanah (60): 12).
Perjanjian ini --baik antara
sang penguasa dengan masyarakat
maupun antara
dia dengan Yang Mahakuasa-- merupakan amanat
yang harus ditunaikan. Dari
sini, tidak heran jika
perintah
taat kepada
penguasa (ulil amr)
didahului oleh perintah
menunaikan amanah. Perhatikan
firman Allah berikut:
Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu
menunaikan
amanat kepada yang berhak menenrimanya dan
(memerintahkan kebijaksanaan) di antara
kamu supaya
menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya
Allah memberi
pengajaran yang sebaik-baiknya kepada
kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi
Maha Melihat.
Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah
Allah,
taatilah Rasul, dan ulil amr di antara
kamu. Kemudian
jika kamu berselisih tentang sesuatu, maka
kembalikan
kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (Sunnah)
jika kamu
benar-benar beriman kepada Allah dan hari
kemudian.
Yang demikian itu lebih utama (bagimu)
lagi lebih
baik akibatnya (QS Al-Nisa' [4]: 58-59).
Kedua ayat
di atas dinilai
oleh para ulama
sebagai
prinsip-prinsip pokok
yang menghimpun ajaran Islam tentang
kekuasaan atau pemerintahan.
Bahkan Rasyid Ridha,
seorang
pakar tafsir,
berpendapat bahwa, "Seandainya
tidak ada ayat
lain yang berbicara tentang hal
permerintahan, maka ayat itu
telah amat memadai."
Amanat dimaksudkan berkaitan dengan banyak hal,
salah satu di
antaranya adalah perlakuan adil.
Keadilan yang dituntut
ini
bukan hanya terhadap kelompok,
golongan, atau kaum Muslim
saja, tetapi mencakup seluruh
manusia bahkan seluruh makhluk.
Ayat-ayat Al-Quran yang menyangkut hal ini amat banyak,
salah
satu di antaranya berupa teguran
kepada Nabi Saw. yang hampir
saja menyalahkan
seorang Yahudi karena
terpengaruh oleh
pembelaan keluarga seorang
pencuri.
6.
SOCIAL POLITIK
Kekuasaan Politik Menurut Al Qur’an
. Istilah kekuasaan politik sering
digunakan untuk menunjukan kewenangan dalam mengatur kehidupan masyarakat.
Pengertian ini merujuk kepada pengertian politik sebagai aktifitas mengatur
masyarakat, dalam pengertian ini terkandung unsur kewenangan membuat
aturan-aturan hukum (kekuasaan legislatif), kewenangan melaksanakan hukum
(kekuasaan eksekutif) dan kekuasaan melaksanakan peradilan untuk mempertahankan
hukum (kekuasaan yudikatif), demikian pula kewenangan menyelenggarakan
aktifitas politik lainnya.
Sedangkan Istilah AlQur’an adalah merujuk pada kitab suci umat Islam yaitu firman Allah SWT yang diturunkan dengan perantaraan malaikat jibrl kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai peringatan, tuntunan dan hukum bagi umat manusia. Tulisan ini bertujuan menemukan konsepsi kekuasaan politik yang dapat dipahami dari ayat-ayat al-Qur’an. Dengan objek ayat-ayat al-Qur’an yang berhubungan dengan kekuasaan politik di harapkan dapat mengetahui konsep dan pemikiran politik yang Qurani, yang bisa dijadikan rujukan bagi umat Islam.
Menurut Abdul Muis Salim ada beberapa kata dalam Al-Qur’an yang dapat dijadikan key word yang relevan dengan konsep kekuasaan. Kata-kata tersebut antara lain adalah al-hukm, as-sulthan, dan al-mulk. Adapun penjelasannnya sebagai berikut:
Pertama, konsep al-Hukm, Secara estimologi al-hukm artinya membuat keputusan, berasal dari kata dengan huruf-huruf ha, kaf dan mim. Istilah hukm bereferensi konsep politik sebagai aktifitas yang bertumpu pada hukum-hukum Tuhan dengan tujuan memelihara eksistensi manusia sebagai khalifah. Namun apabila makna hukm tersebut di kaitkan dengan kehidupan masyarakat, maka kata tersebut mengandung makna pembuatan kebijakan atau melaksanakannya sebagai pengaturan masyarakat, pengertian ini dapat dilihat dalam Q.S. Al-Qalam (36 - 39) Q.S Al-Maidah (50 dan 95). Dengan demikian bahwa kata al hukm tidak hanya disandarkan pada hukum Tuhan semata, tetapi juga disandarkan kepada hukum manusia. Ini berarti adanya dua hukum, yakni hukum Tuhan dan hukum manusia. Dari pengertian diatas kiranya ditemukan hubungan kata hukm dengan konsep politik seperti telah dikemukakan dan dengan demikian kata tersebut relevan pula dengan kekuasaan politik.
Kedua, As-Sulthan, kata ini mempunyai akar kata yang berasal dari huruf sin, lam dan tha dan mempunya makna pokok ”kekuatan dan paksaan”. Kata sulthan yang bermakna kekuasaan di temukan dalam Q.S. Al Isra’ : 80 yaitu :
”Dan barang siapa yang terbunuh secara aniaya, maka sungguh kami telah memberikan kepada walinya kekuasaan...”(Q.S Al-Isra : 33)
Juga dalam ayat 80 surat ini :
”...dan jadikanlah untukku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong"(Q.S Al-Isra : 80)
Dari penggunaan kata sulthan di atas maka dapat diketahui bahwa kata tersebut berkonotasi sosiologis, karena ia berkenaan dengan kemampuan untuk mengatasi orang lain, sehingga kalau dikaitkan dengan konsep kekuasaan politik, jelas istilah tersebut relevan dengan konsep kemampuan dari pada konsep kewenangan (otoritas).
Ketiga, Al Mulk, kata ini berakar pada huruf huruf; mim, lam dan kaf, yang mengandung makna pokok keabsahan dan kemampuan. Dari makna pertama terbentuk kata kerja malaka-yamliku-milkan yang artinya memiliki, dan dari makna kedua terbentuk kata kerja malaka-yamliku-mulkan yang artinya menguasai, dari sinidiperoleh kata malik ”raja” dan mulk ”kekuasaan” hal ini dapat dilihat dalam Q.S. Al Baqarah (247).
Dalam istilah politik al-mulk adalah seseorang kepala negara yang memperoleh kekuasaan dengan jalan mewarisi dari kepala negara sebelumnya, maksud dari penjelasan diatas adalah bahwa konsep yang terkandung dalam kata al-mulk adalah konsep dengan sifat yang umum dan berdimensi kepemilikan. Dengan demikian Kesimpulannya adalah kekuasaan politik merupakan kekuasaan yang dimiliki manusia disamping kekuasaan lainya sebagai pemberian Tuhan kepadanya.
Sedangkan Istilah AlQur’an adalah merujuk pada kitab suci umat Islam yaitu firman Allah SWT yang diturunkan dengan perantaraan malaikat jibrl kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai peringatan, tuntunan dan hukum bagi umat manusia. Tulisan ini bertujuan menemukan konsepsi kekuasaan politik yang dapat dipahami dari ayat-ayat al-Qur’an. Dengan objek ayat-ayat al-Qur’an yang berhubungan dengan kekuasaan politik di harapkan dapat mengetahui konsep dan pemikiran politik yang Qurani, yang bisa dijadikan rujukan bagi umat Islam.
Menurut Abdul Muis Salim ada beberapa kata dalam Al-Qur’an yang dapat dijadikan key word yang relevan dengan konsep kekuasaan. Kata-kata tersebut antara lain adalah al-hukm, as-sulthan, dan al-mulk. Adapun penjelasannnya sebagai berikut:
Pertama, konsep al-Hukm, Secara estimologi al-hukm artinya membuat keputusan, berasal dari kata dengan huruf-huruf ha, kaf dan mim. Istilah hukm bereferensi konsep politik sebagai aktifitas yang bertumpu pada hukum-hukum Tuhan dengan tujuan memelihara eksistensi manusia sebagai khalifah. Namun apabila makna hukm tersebut di kaitkan dengan kehidupan masyarakat, maka kata tersebut mengandung makna pembuatan kebijakan atau melaksanakannya sebagai pengaturan masyarakat, pengertian ini dapat dilihat dalam Q.S. Al-Qalam (36 - 39) Q.S Al-Maidah (50 dan 95). Dengan demikian bahwa kata al hukm tidak hanya disandarkan pada hukum Tuhan semata, tetapi juga disandarkan kepada hukum manusia. Ini berarti adanya dua hukum, yakni hukum Tuhan dan hukum manusia. Dari pengertian diatas kiranya ditemukan hubungan kata hukm dengan konsep politik seperti telah dikemukakan dan dengan demikian kata tersebut relevan pula dengan kekuasaan politik.
Kedua, As-Sulthan, kata ini mempunyai akar kata yang berasal dari huruf sin, lam dan tha dan mempunya makna pokok ”kekuatan dan paksaan”. Kata sulthan yang bermakna kekuasaan di temukan dalam Q.S. Al Isra’ : 80 yaitu :
”Dan barang siapa yang terbunuh secara aniaya, maka sungguh kami telah memberikan kepada walinya kekuasaan...”(Q.S Al-Isra : 33)
Juga dalam ayat 80 surat ini :
”...dan jadikanlah untukku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong"(Q.S Al-Isra : 80)
Dari penggunaan kata sulthan di atas maka dapat diketahui bahwa kata tersebut berkonotasi sosiologis, karena ia berkenaan dengan kemampuan untuk mengatasi orang lain, sehingga kalau dikaitkan dengan konsep kekuasaan politik, jelas istilah tersebut relevan dengan konsep kemampuan dari pada konsep kewenangan (otoritas).
Ketiga, Al Mulk, kata ini berakar pada huruf huruf; mim, lam dan kaf, yang mengandung makna pokok keabsahan dan kemampuan. Dari makna pertama terbentuk kata kerja malaka-yamliku-milkan yang artinya memiliki, dan dari makna kedua terbentuk kata kerja malaka-yamliku-mulkan yang artinya menguasai, dari sinidiperoleh kata malik ”raja” dan mulk ”kekuasaan” hal ini dapat dilihat dalam Q.S. Al Baqarah (247).
Dalam istilah politik al-mulk adalah seseorang kepala negara yang memperoleh kekuasaan dengan jalan mewarisi dari kepala negara sebelumnya, maksud dari penjelasan diatas adalah bahwa konsep yang terkandung dalam kata al-mulk adalah konsep dengan sifat yang umum dan berdimensi kepemilikan. Dengan demikian Kesimpulannya adalah kekuasaan politik merupakan kekuasaan yang dimiliki manusia disamping kekuasaan lainya sebagai pemberian Tuhan kepadanya.
7.
AZAB
Orang-orang menyakini akan adanya azab/siksa, lalu
“Bagaimana Alquran menerangkan detail tentang siksaan itu?”
اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ
رَّحِيمٌ
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya dan
bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Maaidah (5): 98)
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يُعَذِّبُ مَن يَشَاءُ وَيَغْفِرُ لِمَن يَشَاءُ وَاللَّهُ
عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Tidakkah kamu tahu, sesungguhnya Allah-lah yang mempunyai kerajaan
langit dan bumi, disiksa-Nya siapa yang dikehendaki-Nya dan diampuni-Nya bagi
siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al-Maaidah (5): 40)
8.
AKHIRAT
Akhirat
adalah sesuatu yang ghaib, tidak diketahui kecuali dengan berita wahyu, baik
dalam al-Qur‘an maupun Sunnah Rasûlullâh. Sehingga, seseorang tidak boleh
menetapkan suatu ketentuan, kecuali berdasarkan keduanya. Namun perlu diingat,
memahami keduanya dengan benar, harus merujuk kepada para sahabat. Mereka
adalah para murid Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam yang langsung menerima
keterangan dan penjelasan beliau shallallâhu 'alaihi wasallam. Juga
melihat kepada ketentuan dan pemakaian bahasa Arab, sebab Al Qur’an diturunkan
dalam bahasa Arab.
QS. Al
A’laa (87): 16-17
Tetapi
kalian memilih kehidupan duniawi. Padahal kehidupan akhirat adalah
lebih baik (khairu) dan lebih utama – untuk dipilih (abqaa).
Jadi,
penggunaan kata abqaa – terkait dengan akhirat – pada ayat di
atas, sebenarnya bukan menggambarkan ‘tempat’ sebagaimana selama ini dipahami,
melainkan menggambarkan kualitas ‘kehidupan’.
QS. Al
Baqarah (2): 95
Dan
sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya
(abadaa), karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan
mereka (sendiri), dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang aniaya.
9.
SURGA
Surga ialah suatu
tempat kediaman yang berada di alam akhirat yang tempat itu diliputi oleh
berbagai kenikmatan dan kebahagiaan yang belum pernah seseorang hamba Allah
swt. melihat, mendengar, dan menikmatinya saat hidup didunianya. Dan ketahuilah
bahwa surga dipersiapkan bagi hamba-Nya yang bertakwa semasa didunianya, begitu
juga bagi hamba-Nya yang beriman dan senantiasa beramal shaleh. Merupakan
balasan baginya buat selama-lamanya
10.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah
menerangkan sifat surga di dalam kitab Nya dengan keterangan yang nyata hingga
seakan-akan terlihat di depan mata.penjelasan tentang surga itu tidak hanya
terdapat dalam satu surat al-Qur-an. Allah yang maha penyayang ,maha
Pengasih,lagi Mahaagung berfirman :
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). (Dikatakan kepada mereka): “Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi amanDan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya.” ( QS.Al-Hijr:45-48 )
Dan dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera” ( QS.Al-Hajj 23 )
Dalam firman-Nya :
“Sesungguhnya penghuni syurga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan. Di syurga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. (Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang”( QS.Yaa-siin 55—58 )
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). (Dikatakan kepada mereka): “Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi amanDan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya.” ( QS.Al-Hijr:45-48 )
Dan dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera” ( QS.Al-Hajj 23 )
Dalam firman-Nya :
“Sesungguhnya penghuni syurga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan. Di syurga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. (Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang”( QS.Yaa-siin 55—58 )
11.
NERAKA
12. Neraka
(An-Nar) adalah tempat penyiksaan dan ini mempunyai nama yang bermacam-macam,
sebagaimana yang tertulis ini dan tertera didalam kitab suci Al-Qur’an :
1.
Jahanam
“Apakah orang-orang itu tidak mengerti bahwa sesungguhnya siapa saja orang yang membantah (yakni berani durhaka) kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan memperoleh siksa Neraka Jahanam, kekal didalamnya dan yang sedemikian ini adalah suatu kehinaan yang besar sekali.” ( QS. At-Taubah : 63 )
“Apakah orang-orang itu tidak mengerti bahwa sesungguhnya siapa saja orang yang membantah (yakni berani durhaka) kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan memperoleh siksa Neraka Jahanam, kekal didalamnya dan yang sedemikian ini adalah suatu kehinaan yang besar sekali.” ( QS. At-Taubah : 63 )
2. Al –
Jahim
“orang – orang ahli Syurga itu tidak akan merasakan kematian lagi, selain kematian yang pertama (ketika didunia itu) dan mereka itu terjaga dari siksa Neraka Jahim.” ( QS. Ad – Dukhan : 56 )
“orang – orang ahli Syurga itu tidak akan merasakan kematian lagi, selain kematian yang pertama (ketika didunia itu) dan mereka itu terjaga dari siksa Neraka Jahim.” ( QS. Ad – Dukhan : 56 )
3. Al –
Hawiyah
“Adapun orang yang ringan timbangan amalnya, maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah. Adakah engkau mengetahui, apakah Hawiyah itu? Hawiyah adalah api yang amat panas sekali.” ( QS. Al – Qori’ah : 8 – 11 )
“Adapun orang yang ringan timbangan amalnya, maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah. Adakah engkau mengetahui, apakah Hawiyah itu? Hawiyah adalah api yang amat panas sekali.” ( QS. Al – Qori’ah : 8 – 11 )
4. Wail
“Jurang Neraka Wail adalah diperuntukkan orang-orang yang mengurangi takaran (timbangan) yaitu orang yang apabila menerima takaran (timbangan) dari orang lain selalu meminta penuh, sedang apabila menakar (menimbang) untuk orang lain lalu menguranginya.” ( QS. Al – Muthaffifiin: 1-3 )
“Jurang Neraka Wail adalah diperuntukkan orang-orang yang mengurangi takaran (timbangan) yaitu orang yang apabila menerima takaran (timbangan) dari orang lain selalu meminta penuh, sedang apabila menakar (menimbang) untuk orang lain lalu menguranginya.” ( QS. Al – Muthaffifiin: 1-3 )
5. As
–Sa’ir
“Dan niscayalah Kami telah memperhias langit didunia ini dengan bintang-bintang bagaikan pelita dan semuanya itu Kami gunakan untuk melempar Syaithan – syaithan. Kami telah menyediakan untuk Syaithan-syaithan ini siksa Neraka Sa’ir.“ ( QS. Al – Mulk : 5 )
“Dan niscayalah Kami telah memperhias langit didunia ini dengan bintang-bintang bagaikan pelita dan semuanya itu Kami gunakan untuk melempar Syaithan – syaithan. Kami telah menyediakan untuk Syaithan-syaithan ini siksa Neraka Sa’ir.“ ( QS. Al – Mulk : 5 )
6. Ladha
“Jangan demikian, Sesungguhnya Neraka itu disebut Neraka Ladha (yang artinya ialah api yang dahsyat sekali nyalanya), yang dapat melenyapkan kulit kepala, itulah yang menyeret orang-orang yang membelakangi kebenaran dan memalingkan mereka (yakni orang-orang kafir), juga orang yang gemar mengumpulkan serta menyimpan harta (dan tidak menetapi kewajiban zakatnya). ( QS. Al-Ma´aarij: 15-18 )
“Jangan demikian, Sesungguhnya Neraka itu disebut Neraka Ladha (yang artinya ialah api yang dahsyat sekali nyalanya), yang dapat melenyapkan kulit kepala, itulah yang menyeret orang-orang yang membelakangi kebenaran dan memalingkan mereka (yakni orang-orang kafir), juga orang yang gemar mengumpulkan serta menyimpan harta (dan tidak menetapi kewajiban zakatnya). ( QS. Al-Ma´aarij: 15-18 )
7. Saqar
“Orang yang durhaka itu akan Kami masukan kedalam Neraka Saqar. Adakah engkau mengetahui, apakah Saqar itu? Saqar adalah Neraka yang tidak meninggalkan bekas apapun dan tidak ada yang tidak disukai olehnya (terhadap apapun uang diberikan padanya) Neraka Saqar ada beberapa malaikat yang menjaganya, Jumlahnya sembilan belas. “ ( QS. Al – Muddatsir : 26 – 30 )
“Orang yang durhaka itu akan Kami masukan kedalam Neraka Saqar. Adakah engkau mengetahui, apakah Saqar itu? Saqar adalah Neraka yang tidak meninggalkan bekas apapun dan tidak ada yang tidak disukai olehnya (terhadap apapun uang diberikan padanya) Neraka Saqar ada beberapa malaikat yang menjaganya, Jumlahnya sembilan belas. “ ( QS. Al – Muddatsir : 26 – 30 )
8. Al
-Huthamah
“Jangan demikian, niscayalah orang yang durhaka itu pasti akan delemparkan ke dalam Neraka Huthamah, Adakah engkau mengetahui apakah Huthamah itu? Huthamah itu ialah api Neraka kepunyaan Allah yang dinyalakan, menyambar naik sampai ke ulu hati. Sesungguhnya orang-orang kafir dlam Neraka huthamah itu ditutup rapt-rapt serta di ikatlah mereka itu pada tiang-tiang yang dimalangkan letaknya.” ( QS. Al – Humazah:4-9 )
“Jangan demikian, niscayalah orang yang durhaka itu pasti akan delemparkan ke dalam Neraka Huthamah, Adakah engkau mengetahui apakah Huthamah itu? Huthamah itu ialah api Neraka kepunyaan Allah yang dinyalakan, menyambar naik sampai ke ulu hati. Sesungguhnya orang-orang kafir dlam Neraka huthamah itu ditutup rapt-rapt serta di ikatlah mereka itu pada tiang-tiang yang dimalangkan letaknya.” ( QS. Al – Humazah:4-9 )
Allah Ta’ala berfirman (yang
artinya):
“….Maka takutlah kalian kepada Neraka yang bahan bakarnya
terdiri dari manusia dan bebatuan….”(QS. Al-Baqarah: 24)
Maksud al-Waquud adalah Kayu
Bakar.
Ayat ini menjadi dalil tentang
besarnya Neraka dan bahan bakarnya, dan terdapat ancaman yang tidak terhingga
dahsyatnya yaitu ancaman Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.
Jadi, Neraka dinyalakan dengan apa-apa yang menjadi bahan bakarnya.
Allah Ta’ala berfirman (yang
artinya):
“Adapun orang-orang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami,
mereka itu penghuni Neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS.
Al-Baqarah: 39)
Maksudnya adalah mereka tidak
bisa keluar darinya dan tidak dapat mati di dalamnya.
13.
DAKWAH
Pengertian dan Tujuan Da'wah
Da'wah
Secara lughawi berasal dari bahasa Arab, da'wah yang artinya seruan, panggilan,
undangan. Secara istilah, kata da'wah berarti menyeru atau mengajak manusia
untuk melakukan kebaikan dan menuruti petunjuk, menyuruh berbuat kebajikan dan
melarang perbuatan munkar yang dilarang oleh Allah Swt. dan rasul-Nya agar
manusia mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Syaikh
Ali Mahfuzh -murid Syaikh Muhammad Abduh- sebagai pencetus gagasan dan
penyusunan pola ilmiah ilmu da'wah memberi batasan mengenai da'wah sebagai:
"Membangkitkan kesadaran manusia di atas kebaikan dan bimbingan,
menyuruh berbuat ma'ruf dan maencegah dari perbuatan yang munkar, supaya mereka
memperoleh keberuntungan kebahagiaan di dunia dan di akhirat."
Da'wah
adalah usaha penyebaran pemerataan ajaran agama di samping amar ma'ruf dan nahi
munkar. Terhadap umat Islam yang telah melaksanakan risalah Nabi lewat tiga
macam metode yang paling pokok yakni da'wah,amar ma'ruf, dan nahi munkar, Allah memberi
mereka predikat sebagai umat yang berbahagia atau umat yang menang .
Adapun
mengenai tujuan da'wah, yaitu: pertama,
mengubah pandangan hidup. Dalam QS. Al Anfal: 24 di sana di siratkan bahwa yang
menjadi maksud dari da'wah adalah menyadarkan manusia akan arti hidup yang
sebenarnya. Hidup bukanlah makan, minum dan tidur saja. Manusia dituntut untuk
mampu memaknai hidup yang dijalaninya.
Kedua,
mengeluarkan manusia dari gelap-gulita menuju terang-benderang. Ini diterangkan
dalam firman Allah: "Inilah kitab yang kami turunkan kepadamu untuk
mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada terang-benderang dengan izin
Tuhan mereka kepada jalan yang perkasa, lagi terpuji." (QS. Ibrahim: 1)
14. PENDIDIKAN
Pengertian
pendidikan menurut Prof. Herman H. Horn
pendidikan adalah proses abadi dari penyesuaian lebih tinggi bagi makhluk yang telah berkembang secara fisk dan mental yang bebas dan sadar kepada Tuhan seperti termanifestasikan dalam alam sekitar, intelektual, emosional dan kemauan dari manusia.
pendidikan adalah proses abadi dari penyesuaian lebih tinggi bagi makhluk yang telah berkembang secara fisk dan mental yang bebas dan sadar kepada Tuhan seperti termanifestasikan dalam alam sekitar, intelektual, emosional dan kemauan dari manusia.
direfleksikan Allah SWT
dalam QS. Luqman (31):12-19 selengkapnya berbunyi sebagai berikut :
12. Dan sesungguhnya telah kami berikan hikmah kepada Luqmman, yaitu : " bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah) maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barang siapa tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".
13. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran kepada anaknya: "Hai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu adalah benar-benar kedzaliman yang besar".
14. Dan Kami perintahkan kepada manusia terhadap dua orang ibu-bapak; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
15. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuannya tentang itu, maka janganlah engkau mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberikan kepadamu apa yang telah engkau kerjakan.
16. (Luqman berkata): "Hai anakkua, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui".
17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
18. Dan janganlah engkau memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
19. Dan sederhanalah engkau dalam berjalan dan lunakkan suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.
12. Dan sesungguhnya telah kami berikan hikmah kepada Luqmman, yaitu : " bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah) maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barang siapa tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".
13. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran kepada anaknya: "Hai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu adalah benar-benar kedzaliman yang besar".
14. Dan Kami perintahkan kepada manusia terhadap dua orang ibu-bapak; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
15. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuannya tentang itu, maka janganlah engkau mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberikan kepadamu apa yang telah engkau kerjakan.
16. (Luqman berkata): "Hai anakkua, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui".
17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
18. Dan janganlah engkau memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
19. Dan sederhanalah engkau dalam berjalan dan lunakkan suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.
15.
EKONOMI
Ekonomi dalam Islam adalah ilmu yang
mempelajari segala prilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan
tujuan memperoleh falah (kedamaian & kesejahteraan dunia-akhirat).
Alquran telah menjelaskan prinsip-prinsip ekonomi yang semua
cabang-cabang kembali kepadanya. Hal itu karena masalah-masalah ekonomi kembali
kepada dua prinsip:
Pertama: Kecerdasan di dalam mencari
harta.
Kedua: Kecerdasan di dalam
membelanjakan pada tempat-tempatnya.
Perhatikanlah bagaimana di dalam kitab-Nya, Allah membuka
jalan-jalan untuk mencari harta, dengan cara-cara yang sesuai dengan kehormatan
dan agama. Allah telah menerangi jalan di dalam hal tersebut. Dia berfirman,
16.
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاَةُ فَانْتَشِرُوا فِي اْلأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka
bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu
beruntung.” (Q.S. Al-Jumu’ah/62: 10).
Allah juga berfirman,
17.
وَءَاخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي اْلأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِن فَضْلِ اللهِ
“Ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang
berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah.” (Q.S. Al-Muzammil/73: 20).
;;
Subscribe to:
Postingan (Atom)